Serang – Saeni, 58 tahun, pemilik warung nasi di Pasar Induk Rau, Kota Serang, ahirnya resmi menerima uang donasi sebesar Rp172 juta dari netizen yang digagas oleh Dwika Putra. Bantuan diberikan langsung oleh Koordinator Pengumpul Dana di media sosial, Dwika Putra, di Bank BRI kantor cabang Serang, Rabu 15 Juni 2016.

Ibu empat orang anak itu menuturkan, uang yang sudah diterimanya akan digunakan untuk beribadah ke tanah suci, modal usaha, tabungan untuk kesehatan dan pendidikan anaknya. “Alhamdulillah akan berangkat umroh bersama suami, buat tabungan kesehatan, buat biaya kuliah anak. Saya bersyukur kepada kepada Allah atas rizki yang telah diberikan,” ujar Eni Rabu 15 Juni 2016.

Saeni juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat dan mengakui kesalahanya melanggar Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 Tahun 2010 tentang tentang Pencegahan, Pemberantasan, dan Penanggulangan Penyakit Masyarakat yang berlaku di Kota Serang.

Selain itu, perempuan asal Tegal, Jawa Tengah tersebut juga mengaku menyesal telah membuat kegaduhan di masyarakat. “Saya minta maaf sebesar-besarnya atas segala keselahan saya. Saya akui banyak pihak yang dirugikan oleh perilaku saya. Saya merasa salah buka pada siang hari. Saya bingung harus berbuat apa,” kata Saeni.

Sementara itu, pengagas pengumpul dana netizen untuk Saeni, Dwika Putra, mengatakan bantuan tersebut semata-mata karena kemanusiaan. Menurutnya, kegiatan yang dilakukannya bersama teman-teman netizen lain tidak ada hubunganya dengan isu Suku Agama Ras Antargolongan (SARA).

“Saya berharap, bantuan ini tepat sasaran dan tepat manfaat untuk Saeni dan keluarganya. Untuk laporannya bisa dilihat melalui website kami di Kitabisa.com,” katanya.

Terkait aksinya yang menimbulkan polemik, Dwika yang didampingi beberapa rekannya menyatakan bahwa ia bersama timnya hanya bergerak spontan demi kemanusiaan. “Kita bergerak di bidang kemanusiaan. Ini gerakan spontan, kalau ada kesalahan kami mohon maaf,” katanya.

Sebelumnya, Satuan Polisi Pamong Praja Kota Serang, Banten, merazia warung makan yang buka pada siang hari kala Ramadan. Pemilik warteg Saeni menjadi salah satu korbannya. Akibat peristiwa itu, Pemerintah Kota Serang mendapat sorotan karena penerapan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2010 tentang Penyakit Masyarakat yang di dalamnya mengatur jam buka rumah makan saat Ramadan.

Kejadian yang menimpa Saeni itu kemudian menyita perhatian publik setelah ramai diperbincangkan netizen. Sejumlah kalangan, termasuk Wakil Presiden Jusuf Kalla, turut memberi komentar menanggapi kejadian itu. (Nasir/Sie)