Jakarta -Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri, Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar, mengatakan penyelidikan kasus peledakan bom molotov di Gereja Oikumene, Samarinda masih berlangsung. Sebanyak 15 orang diperiksa dan satu orang bernama Juanda telah ditetapkan sebagai tersangka.

“Kurang lebih ada 15 orang diamankan dan sedang diperiksa. Sifatnya masih saksi,” kata Boy di Markas Korps Brigade Mobil Polri, Cimanggis, Depok, Senin, 14 November 2016.

Boy mengatakan para saksi itu statusnya menunggu waktu 7 x 24 jam. “Nanti dilihat adakah hubungan langsung dengan tersangka. Kalau ada, bisa jadi tersangka juga,” ujarnya.

Mereka ditangkap di sekitar kota Samarinda, Kalimantan Timur. Boy mengatakan motif pengeboman ini adalah pelaku ingin menyakiti orang lain.

Seseorang tak dikenal melemparkan bom yang diduga molotov di depan Gereja Oikumene, RT 03 Nomor 32, Jalan Cipto Mangunkusumo, Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Loa Janan Ilir, Samarinda, Kalimantan Timur, Minggu, 13 November 2016.

Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Agus Rianto, pelemparan bom molotov itu terjadi sekitar pukul 10.00 WITA. “Sekitar pukul sepuluh, jamaah yang selesai melaksanakan kegiatan ibadah keluar melalui pintu depan menuju ke parkiran. Tiba-tiba datang orang yang tidak dikenal melemparkan sesuatu yang diduga menggunakan jenis bom molotov,” kata Agus kepada wartawan melalui pesan singkat, Minggu, 13 November.

Seusai melemparkan bom molotov di Gereja Oikumene, pelaku melarikan diri ke arah depan dan melompat ke sungai Mahakam. Agus mengatakan warga yang melihat kejadian tersebut berusaha mengejar pelaku. Warga berhasil menangkap pelaku.  “Dan diserahkan ke pihak kepolisian Polsek Samarinda Seberang,” ujar Agus.

Akibat ledakan ini, 4 balita terluka dan mereka dilarikan ke rumah sakit. Seorang balita perempuan korban ledakan bom akhirnya meninggal Kerugian materi dari peristiwa ini yaitu 4 unit sepeda motor rusak. (Tempo.co/Rmd)