Suasana Gelanggang Olahraga (GOR) Swecapura, Kabupaten Klungkung, Bali dipadati oleh pengungsi dari wilayah terdampak erupsi Gunung Agung. Sebagian dari mereka adalah pengungsi yang enggan pulang sejak evakuasi tahap pertama, 22 September lalu.

Sementara sisanya, adalah para pengungsi yang sempat kembali ke desanya.A�”Ada sekitar 500 warga enggan pulang karena desanya di Sebudi merupakan Kawasan Rawan Bencana (KRB). Sekitar 6 km dari Gunung Agung,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Klungkung, Putu Widiada kepada detikcom, saat ditemui di GOR Swecapura, Rabu (29/11/2017).

Pengungsi Gunung Agung Padat GOR Swecapura, Ini Penampakannya

Pengungsi yang datang di GOR Swecapura berasal dari enam desa yang masuk kawasan rawan bencana (KRB). Enam desa tersebut yakni Buwana Giri, Sebudi, Besakih, Jungutan, Dukuh dan Ban.

“Sebenarnya ada 13 desa. Tapi yang rawan itu 6 desa sisanya bisa dikatakan rawan jika sungai meluap saat ada lahar dingin,” tambahnya.

Pantauan Detikcom di GOR Swecapura, ratusan orang memadati ruangan besar GOR. Mereka menggelar kasur, tikar dan karpet di lantai dan tribun dalam GOR. Tak ada sekat bagi para pengungsi. Semua berjejer sesuai ruas. Sementara yang berada di tribun menyesuaikan dengan kondisinya.

Pengungsi Gunung Agung Padat GOR Swecapura, Ini Penampakannya

Salah satu pengungsi, Ketut Nuada (37) mengaku sudah dua bulan ini menetap di GOR Swecapura. Bersama keluarganya, Nuada mengungsi dari Desa Sebudi yang terletak 6 kilometer dari puncak Gunung Agung.

“Saya belum pernah pulang Galungan kemarin mau pulang takut masih siaga. Semoga cepat selesai ini,” harapnya.