Sigmainteraktif – Pertamina resmi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dan Pertamax. Kenaikan ini tercatat sejak Sabtu, 24 Februari 2018. Namun, keputusan itu dianggap merugikan karena dilakukan tanpa sosialisasi. Namun, Pertamina menolak jika kebijakan tersebut dilakukan secara diam-diam. Sebab, pihaknya telah memberikan pengumuman melalui SPBU dan juga website resmi milik Pertamina.

“Harga BBM kami publish di SPBU dan website. Bisa dilihat semua orang. Jadi enggak diam-diam juga,” ujar External Communication Manager Pertamina Arya Dwi Paramita Ahad, 25Februari 2018.

Dalam daftar yang dimuat di situs resmi Pertamina, harga Pertamax, Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite dinaikkan, sementara Pertalite tetap Rp 7.600. BBM bersubsidi, Premium dan Solar, juga tidak naik.

Untuk wilayah Jawa dan Bali, harga Pertamax naik Rp 300 rupiah per liter menjadi Rp 8.900, sementara Pertamax Turbo menjadi Rp 10.100. Dexlite dari Rp 7.500 menjadi Rp 8.100 dan Pertamina Dex dari Rp 9.250 menjadi Rp 10 ribu.

Harga BBM non-subsidi di Sumatera dan Sulawesi Selatan rata-rata lebih mahal Rp 100-200. Di provinsi lain, harga BBM non-subsidi lebih mahal Rp 400 sampai Rp 1.850 per liter, dengan harga tertinggi untuk Pertamax adalah di Maluku Utara sebesar Rp 11.750.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Adiatma Sardjito mengatakan seluruh jenis BBM umum yakni Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex mengalami perubahan harga.

“Evaluasi harga jual BBM jenis umum atau BBM non penugasan ini dilakukan secara periodik. Jika harga minyak dunia bergerak naik, maka harga jual BBM hingga ke konsumen harus mengalami penyesuaian. Kondisi yang sebaliknya juga bisa terjadi,” dalam rilisnya, Ahad, 25Februari 2018. (Tempo.co/Rmd)