Untuk memaksimalkan pendataan kasus-kasus yang terjadi terkait kekerasan terhadap perempuan dan anak, Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak Kota Serang mengadakan Sosialisasi Sistem Informasi Gender dan Anak (SIGA) bagi kader pendata tingkat kelurahan dan tingkat kecamatan se-kota serang yang berlokasi gedung PKP-RI Kota Serang, Jum’at (27/04/2018).

Kegiatan yang dihadiri 60 kader tingkat kelurahan dan kecamatan ini di dalamnya turut hadir pula peserta dari Forum Anak Kota Serang (Fakotas).

Ika Masduki, Sekretaris DP3AKKB Kota Serang menjelaskan bahwa kegiatan sosialisasi ini sudah pernah dilaksanakan di tahun sebelumnya, dan untuk memaksimalkannya pendataan tersebuta, kegiatan sosialisasi serupa diadakan kembali.

Gunawan, Sekretaris LPA Prov. Banten menjelaskan bahwa banyak kasus yang terjadi seringkali tidak dilaporkan langsung oleh para korban.

“Menjadi tantangan bagi para kader pendata dalam proses pendataan di lapangan untuk dapat melakukan pendekatan kepada korban dan keluarganya. Sebagian besar korban kekerasan baik itu perempuan ataupun anak-anak malu untuk melaporkan kejadian yang menimpanya dengan berbagai alasan, diantaranya khawatir menjadi aib keluarga, khawatir tidak ditindaklanjuti, takut dengan intimidasi pelaku, dan tidak ada dukungan dari keluarga,” jelas Gunawan.

“Untuk itu perlu ada peran serta dan kepedulian masyarakat terhadap kejadian yang menimpa warga bahkan tetangga didekat rumahnya, langkah-langkah untuk mencegah dan menolong korban dapat dilakukan dengan cara: Pertama, pahami dan kenalilah lingkungan sekitar kita, yang Kedua, kenali tanda-tanda anak atau perempuan yang mengalami kekerasan, dan yang Ketiga, tidak perlu ragu dalam membantu korban kekerasan. Karena Pertolongan pertama pada korban kekerasan, terutama pada anak maupun perempuan adalah bentuk Kepedulian orang-orang sekitarnya. Dengan menjadi pendengar dan pemberi perlindungan yang baik,” tambah Gunawan.

Erlina Yenni, Kasatbinmas Polres Serang Kota turut pula menjelaskan bagaimana proses pelaporan apabila ditemukan kasus yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

“Pelaporan atas tindak kekerasan dapat diawali dengan koordinasi dengan RT, RW setempat, di tingkat kelurahan ada aparatur desa dan Babinkamtibmas juga dapat dilakukan koordinasi dengan pegiat PATBM di kelurahan, meningkat ke LPA atau ke P2TP2A, baru kemudian untuk penindakan dapat dilaporkan ke Polres Serang Kota,” papar Erlina.

Sahmin, Lurah Nyapah Walantaka yang juga aktif dalam pendataan kekerasan berbasis Gender dan Anak menjelaskan tentang teknis pengisian form dan terkait identitas, kejadian, dan kasus yang terjadi dalam data Sistem Informasi Gender dan Anak.

Salsabila, peserta yang berasal dari Forum Anak Walantaka dan Muhammad Izza Fauzan dari Forum Anak Kota Serang memberikan pandangannya tentang kekhawatiran terkait dampak buruk yang dirasakan anak-anak korban kekerasan dan juga bagaimana peran serta anak-anak dalam turut serta bersosialisasi agar Ibu dan anak korban kekerasan untuk tidak malu melaporkan kasus kekerasan yang dialaminya.