Serang – Gubernur Banten Wahidin Halim akhirnya menetapkan status tanggap darurat terhadap bencana banjir badang dan longsor yang melanda sebagian wilayah di Provinsi Banten. Status tanggap darurat meliputi wilayah Kabupaten Lebak, Kabupaten Serang, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan berlangsung selama 14 hari terhitung 1 Januari 2020 hingga 14 Januari 2020.

Wahidin mengaku telah meneken surat keputusan tentang status tanggap darurat didasarkan atas pernyataan Kepala BMKG tentang Informasi Puncak Musim Hujan 2019/2020 dan Prakiraan Curah Hujan hingga 3 bulan kedepan di Provinsi Banten dan DKI Jakarta. Menurut Wahidin, ditetapkannya status tanggap darurat bencana ini bertujuan agar penanganan terhadap korban terdampak bencana dapat lebih ditingkatkan serta mengantisipasi adanya dampak yang meluas akibat bencana.

“Selain itu kan curah hujan masih diprediksi tinggi, jadi kewaspadaan dan kesiap siagaan baik masyarakat maupun petugas harus ditingkatkan, untuk menghindari dampak yang lebih besar nantinya,” kata Wahidin Jum’at, 3 Januari 2020.

Pemerintah daerah, kata Wahidin, saat ini terus melakukan inventarisasi titik-titik banjir dari yang terparah, sedang hingga ringan. “Jumlah kerugian secara material belum bisa disampaikan karena masih menghitung jembatan hanyut, ditambah jalan belum lagi di kota Kota tengerang cukup parah ada 56 titik banjir,” katanya.

Sebelumnya, sebanyak tiga orang meninggal dunia dan 8 orang warga dinyatakan hilang dalam bencana banjir bandang dan longsor yang melanda beberapa daerah di Provinsi Banten, sejak Rabu, 1 Januari kemarin. Korban meninggal terdiri atas warga Kota Tangerang, Tangerang Selatan dan Kabupaten Serang.

Berdasarkan data rekapitulasi sementara dari Kepolisian Resort Lebak pada Kamis, 2 Januari 2020, delapan orang yang dinyatakan hilang diduga dua orang hanyut terbawa arus, dan 6 orang diduga tertimbun tanah longsor. Namun, polisi beserta TNI dan Basarnas dibantu warga, masih terus melakukan penencarian.

Sedangkan kerusakan akibat banjir bandang dan tanah longsor di wilayah Kabupaten Lebak meliputi, rumah yang hanyut 80 unit, rumah rusak berat 604 unit, rumah rusak ringan 1.431 unit, jembatan rusak 20 unit, musala 15 unit, hewan ternak yang hilang 3.841 ekor, mobil yang rusak 8 unit, sepeda motor yang rusak 55 unit.

Sementara itu, Kepala Bidang Humas Polda Banten Komisaris Besar Edy Sumardi Priadinata mengatakan, lokasi bencana terparah berada di Kecamatan Lebak Gedong, karena titik banjir berada di perkampungan yang masuk ke Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) Kecamatan Lebak Gedong.

“Sejak Rabu hingga Kamis saya bersama Kapolres Lebak meninjau jalan yang longsor dan sedang diperbaiki oleh Dinas PUPR Provinsi Banten, untuk memudahkan akses distribusi logistik dan mobilisasi kendaraan kesehatan di pengungsian,” kata Edy Sumardi.

Terkait korban hilang, menurut Kapolres Lebak Ajun Komisaris Besar Andre Firman mengatakan, pihaknya mendapatkan informasi dari warga dan perangkat desa mengenai delapan warga yang hilang, baik yang diduga hanyut hingga terkubur material longsoran.

Pihak kepolisian dari Polres Lebak masih mendalami informasi warga tersebut, sambil melakukan upaya pencarian korban dibantu oleh tim Polda Banten. “Untuk orang hilang, ada dua orang diperkirakan hanyut, kemudian ada enam orang diperkirakan tertimbun tanah. Berdasarkan informasi dari masyarakat dan perangkat desa, masih kita dalami,” kata Andre Firman.

Kepolisian Resort Lebak juga mencatat sekitar 2.000 kepala keluarga (KK) terdampak banjir bandang di sejumlah lokasi di Kabupaten Lebak. Saat ini, mereka mengungsi di beberapa lokasi yang disediakan oleh aparat pemerintah, seperti lapangan futsal dan balai desa. (Sie/Rmd)