Stres Bisa Jadi Faktor Kegagalan Program Bayi Tabung

0
38
Ilustrasi: Net

Sigmainteraktif.com – Ada berbagai prosedur yang perlu dilakukan dalam pelaksanaan program bayi tabung. Selain teknologi yang mumpuni, kesehatan mental juga perlu dipersiapkan oleh para calon orang tua, terutama ibu. “Jangan sampai stres,” kata Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultan Fertilitas, Endokrinologi, dan reproduksi RS Pondok Indah IVF Centre Budi Wiweko pada konferensi pers virtual bertajuk ‘RS Pondok Indah IVF Centre, Harapan Baru untuk Miliki Buah Hati’ pada 4 Februari 2021.

Budi mengatakan stres menjadi salah satu penyebab kegagalan program bayi tabung. Menjalani program bayi tabung bisa menjadi proses yang menegangkan bagi sebagian pasangan. Faktor pemicu stres itu salah satunya waktu dan biaya yang dibutuhkan. Faktor lainnya adalah ketakutan program bayi tabung akan berakhir gagal. Tidak jarang beberapa calon ibu, rela berhenti dari pekerjaan mereka untuk bisa fokus menjalani program bayi tabung ini.

Dalam mengatasi stres Budi mengatakan para dokter siap memberikan konseling yang detail. Ketika melakukan pemeriksaan pun pasien perlu diberikan kenyamanan dan privasi sehingga mereka bisa lebih tenang dalam merencanakan dan mengikuti program bayi tabung.
Setiap pasangan memiliki kondisi dan kebutuhan yang spesifik sehingga perencanaan program kehamilan juga akan berbeda dan membutuhkan pendekatan yang personal. “RS Pondok Indah IVF Centre menerapkan konsep pendampingan Konselor IVF pada seluruh rangkaian proses,” kata Budi Wiweko.

Budi sangat menyarankan agar para pasangan, khususnya ibu yang akan menjalani bayi tabung bisa lebih santai menjalaninya. “Harus berpikir positif dan optimis dalam menjalaninya. Bila tidak stres, pasien akan hamil,” kata Budi.

Ada 6 langkah dalam mengikuti prosedur bayi tabung.

  1. Pemeriksaan awal.
    Pada tahap ini, pasangan suami istri akan diperiksa secara menyeluruh oleh dokter spesialis kebidanan dan kandungan konsultan fertilitas, endokrinologi dan reproduksi. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan darah, pemeriksaan ultrasonografi (USG) untuk mengetahui cadangan ovarium, kondisi reproduksi wanita, serta analisis semen untuk mengetahui kualitas sperma pria.
  2. Stimulasi ovarium
    Jika hasil pemeriksaan awal telah memenuhi semua syarat untuk menjalani bayi tabung, calon ibu akan disuntik dengan obat pembesar telur, Tindakan ini bertujuan untuk menstimulasi telur (folikel) agar membesar dan matang. Semakin banyak folikel yang matang dan berkembang, semakin besar pula kemungkinan didapatkan sel telur berkualitas baik untuk digunakan dalam proses bayi tabung.
  3. Menjaga folikel tumbuh dan berkembang tepat waktu. Folikel yang baik akan tumbuh dan membesar selama penyuntikan obat. Guna memastikan hal tersebut, perlu ada penyuntikan hormon yang dilakukan 10-12 hari agar sel telur dapat berkembang hingga matang. Selain itu, akan dilakukan juga penyuntikan hormon LH, sehingga folikel yang membesar tidak akan pecah sebelum waktunya.
  4. Pengambilan sel telur
    Pada tahap ini, sel telur yang sudah matang diambil dari tubuh calon ibu dengan menggunakan jarum khusus, kemudian dibawa ke laboratorium embriologi. Tindakan ini dilakukan dengan anestesi untuk menghindari rasa sakit dan dilakukan di kamar operasi khusus.
  5. Menyatukan sel telur dan sperma
    Pada hari yang sama dengan pengambilan sel telur, sel telur yang berkualitas baik akan dipertemukan dengan sperma terpilih dari calon ayah, untuk kemudian dikembangkan dalam inkubator. Seleksi sel telur dan sel sperma dilakukan di laboratorium khusus.
  6. Pemindahan embrio ke dalam rahim.
    Telur yang sudah dibuahi akan berkembang menjadi embrio dalam aktual 3-5 hari. Setelah mengatakan itu, akan dilakukan seleksi kembali untuk memilih embrio terbaik.

Chief Executive RS Pondok Indah Group Yanwar Hadiyanto mengatakan ketenangan pasien dalam program ini baik sekali. “Menurut kami, hal ini sangat penting untuk memberikan ketenangan pada setiap pasien, sekaligus memberikan moral support yang akhirnya dalam menentukan keberhasilan program kehamilan dalam pemberian bakso saja,” kata Yanwar. (Tempo/Red)

https://gaya.tempo.co/read/1437801/stres-bisa-jadi-faktor-kegagalan-program-bayi-tabung