Serang – Komunitas Kembali akan menggelar pertunjukkan berjudul Muara Karuhun. Pada pentas teater kali ini, Komunitas Kembali berkolaborasi dengan beberapa penggiat seni berbagai bidang, seperti ilustrator dan musisi, juga melibatkan beberapa pegiat teater kampus.

Menurut sutradara Imaf M Liwa, Muara Karuhun sendiri merupakan pertunjukan alih wahana dari cerpen karya Farid Ibnu Wahid yang terinspirasi dari cerita rakyat dan toponimi dari Desa Muara, wilayah Kabupaten Lebak, Banten.

“Pertunjukan Muara Karuhun akan menceritakan muatan lokal berupa mitos yang memiliki nilai ajaran hidup dalam berhubungan baik dengan sesama manusia, alam, dan Tuhan. Selain itu, pertunjukan ini akan menyuguhkan beberapa dialog dalam berbahasa Sunda,” ujar Imaf melalui keterangan tertulis yang diterima wartawan, Selasa, 1 Februari 2022.

Muara Karuhun digarap oleh Komunitas Kembali dengan pendekatan “teater eksperimentatif-inovatif”. Pertunjukan ini akan tergambarkan dengan beberapa elemen pertunjukan, seperti monolog, gerak, musik, ilustrasi, dan video pemetaan (mapping).

Mengenai cerita rakyat yang menjadi spirit pertunjukkan Muara Karuhun, Imaf menambahkan bahwa Indonesia memiliki beragam budaya di setiap wilayahnya. Salah satu keragaman tersebut ialah cerita rakyat yang berkembang dan diwariskan secara turun temurun kepada generasi di setiap daerah di Indonesia.

“Cerita rakyat ini berbentuk toponimi. Toponimi adalah cabang onomastika yang menyelidiki asal usul nama tempat. Toponimi ini termasuk sastra lisan yang memiliki beragam nilai ajaran hidup. Akan tetapi, seiring perkembangan zaman, nilai-nilai tersebut sudah bergeser makna dan ‘berjarak’ dengan masyarakat saat ini walaupun tidak semuanya. Selain itu, cerita rakyat dan dongeng-dongeng yang bernilai sastra kini sudah ditinggalkan. Oleh karena itu, Kami, Komunitas Kembali, akan memperkenalkan kembali dan mengajak masyarakat untuk berdekatan dengan cerita rakyat (toponimi) yang dialihwahanakan dalam bentuk seni pertunjukan teater yang berjudul Muara Karuhun,” tandasnya.

Ia dan seluruh anggota Komunitas Kembali berharap pertunjukan tersebut dapat menjadi salah satu upaya melestarikan dan mengembangkan sastra lisan. Selain itu untuk meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga nilai-nilai kemanusiaan, mengajak masyarakat untuk menjaga dan melestarikan lingkungan (alam), meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap perilaku nonkoruptif.

“Kami mengundang kepada publik, baik pelajar, budayawan, cendikiawan, wartawan, pejabat publik maupun masyarakat umum untuk membeli tiket pertunjukan dan hadir mengapresiasi pertunjukan,” ujarnya.

Pertunjukkan Muara Karuhun akan dipentaskan pada Senin (dua sesi) dan Selasa (dua sesi), sesi-1 pukul: 14.00 WIB dan sesi-2 pukul: 19.30 WIB tanggal 21 dan 22 Februari 2022 di Gedung Auditorium Surosowan Rumah Dunia, Komplek Hegar Alam Nomor 40, Ciloang, Sumurpecung, Serang-Banten.

Imaf menambahkan, bahwa pertunjukan tersebut akan pentaskelilingkan ke beberapa kota, seperti Serang, Cilegon, Warung Gunung (Lebak), dan akan dipentaskan di beberapa sekolah.

Sebelumnya Komunitas Kembali juga telah mementaskan ID berupa pertunjukan kolaborasi bersama masyarakat Jawilan, Serang-Banten tahun 2017 silam. Tebah, Tabuh, Tabah pertunjkan kolaborasi bersama kelompok kesenian tradisi terbang gembrung, masyarakat Cikentang, Serang-Banten tahun 2018; KITA program kembali ke sekolah, pentas keliling dibeberapa sekolah yang ada di provinsi Banten tahun 2018.

Pementasan Mundingan adaptasi novel Max Havelaar karya Multatuli partisipasi dalam Festival Seni Multatuli tahun 2018; Adang sebagai Teater dan Ketahanan Pangan kolaborasi bersama masyarakat Kesabilan, Serang Banten tahun 2021. (Yu/Suh)