tbc

Serang – Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Bakteri ini biasanya menyerang paru-paru, namun tidak jarang pula bakteri dapat memengaruhi bagian tubuh lainnya.

Indonesia termasuk negara dengan beban TBC tinggi dimana saat ini Indonesia menduduki
peringkat ketiga di dunia, dengan insiden sebesar 845.000 atau sebesar 320/100.000 penduduk
dengan angka kematian sebanyak 98.000 atau sebesar 40/100.000 penduduk dan 3,6/100.000
penduduk TBC-HIV.

Komitmen Indonesia menuju Eliminasi Tuberkulosis tahun 2030, terus di maksimalkan dalam pencegahan dan penangan terhadap pasiennya. Pencapaian target Eliminasi Tuberkulosis tahun 2030 dilaksanakan melalui penerapan Strategi nasional,
dimana salah satu upayanya adalah pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis.

Upaya ini sesuai dengan Peraturan Presiden No 67 tahun 2021 tentang Upaya Penanggulangan Tuberkulosis pasal 9. Pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis diberikan kepada orang dengan Infeksi Laten
Tuberkulosis (ILTB).

Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB) adalah suatu keadaaan dimana sistem kekebalan tubuh orang yang terinfeksi tidak mampu mengeliminasi bakteri Mycobacterium tuberculosis dari tubuh secara sempurna tetapi mampu mengendalikan bakteri TBC sehingga tidak timbul gejala sakit TBC.

Orang dengan ILTB apabila dilakukan Tuberculin Skin Test (TST) atau pemeriksaan Interferon Gamma-Release Assay (IGRA) hasilnya akan positif, tetapi hasil pemeriksaan rontgen
thorax normal serta hasil pemeriksaan dahak dan Xpert MTB/Rif negatif.

Penemuan orang dengan ILTB bisa dilakukan dengan kegiatan investigasi kontak, contact invitation, penemuan di tempat khusus, pemeriksaan medical check-up rutin. Investigasi kontak dilakukan pada orang di sekitar kasus indeks, yaitu kontak serumah dan kontak erat.

Sedangkan untuk masyarakat
Berisiko yang merupakan prioritas sasaran pemberian Terapi Pencegahan Tuberculosis atau TPT adalah sebagai berikut :

  1. Orang dengan HIV/AIDS (ODHA)
  2. Kontak serumah dengan pasien TBC paru yang terkonfirmasi bakteriologis :
    a. Anak usia di bawah 5 tahun
    b. Anak usia 5-14 tahun
    c. Remaja dan dewasa (usia di atas 15 tahun)
  3. Kelompok risiko lainnya dengan HIV negatif :
    a. Pasien Pasien immunokompremais lainnya (Pasien yang menjalani pengobatan kanker, pasien yang mendapatkan perawatan dialisis, pasien yang mendapat kortikosteroid
    jangka panjang, pasien yang sedang persiapan transplantasi organ, dll).
    b. Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), petugas kesehatan, sekolah berasrama, barak militer, pengguna narkoba suntik

dr. Qotrun Nada Kepala Seksi Pencegahan dan pengendalian penyakit menular (P2PM) Dinas Kesehatan mengatakan upaya Pemerintah Kabupaten Tangerang dalam melakukan pendampingan atau advokasi bagi masyarakat yang terpapar TBC terus dilakukan, dimana puskesmas dan elemen tenaga medis terus memberikan pendampingan bagi masyarakat.

” Untuk meredam meluasnya TBC ini, Puskesmas dan tim tenaga kesehatan terus memberikan terapi pencegahan tuberculosis,” paparnya.

Qotrun Nada mengakui kalau kabupaten Tangerang juga berhasil secara target dalam meredam penukaran TBC ini, kita menargetkan 90 persen kesembuhan dan melampaui target tersebut.

” Tingkat kesembuhan (Succes Rate) pasien TBC kab Tangerang tahun 2021 adalah 90,83%, dimana target nasional SR 90%.” Tegasnya.

Bahkan untuk terus mengupgrade diri, dinas kesehatan juga memberikan pelatihan dan workshop tersendiri dengan melibatkan 44 Puskesmas dalam penanganan ILTB dan pemberian TPT, sehingga tim tidak abai dalam memberikan layanan dan menjalankan prosedur penanganan. (ADV)